1.03.2009

gfdgdsfg

11.27.2008

Nietzsche, Filsuf Barat Yang Melawan Tuhannya

"Gott is tot ! Gott bleibt tot! Und Wir haben ihn getotet !". Tuhan sudah mati!, Tuhan terus mati!, Kita telah membunuhnya!. Ucapan yang kemudian mashur ini dipakai oleh Nietzsche untuk mengawali perlawanannya terhadap segala bentuk jaminan yang dipegang manusia. Jaminan kepastian yang dimaksud adalah Tuhan sebagaimana diwariskan oleh agama Kristen yang dianutnya. Serta segala makna dan nilai yang di Tuhankan manusia, sehingga menyerupai model-model Tuhan, seperti ilmu pengetahuan, rasio, akal, logika, kemajuan, materi, modernisasi, sejarah manusia, dan peradaban.

Dilahirkan di Röcken, Jerman pada 15 Oktober 1844. Menjelang umur enam tahun, Nietzsche masuk sekolah Gymnasium. Di usianya yang masih belia tersebut, Nietszsche sudah bisa membaca dan menulis. Kelihaian tersebut merupakan curahan kasih sayang ibunya dalam bentuk pendidikan di masa kecilnya. Dalam lingkungan sekolahannya, Nietsche tergolong tipe mahasiswa yang supel dan gaul. Ia cepat sekali menjalin persahabatan dengan teman-teman satu sekolahnya. Melalui teman-temannya inilah kemudian Nietszsche mengenal pemikiran-pemikiran Filsafat.

Pada umurnya yang ke empat belas tahun, Nietszsche pindah sekolah sekaligus tinggal di asrama yang bernama Pforta. Selama di Pforta Nietzsche belajar bahasa Yunani dan Latin secara intensif. Dari sinilah ia mendapatkan bekal yang kuat untuk menjadi ahli Filologi yang brilian. Disamping belajar kedua bahasa tersebut, ia juga masih sempat belajar bahasa Ibrani, karena pada waktu itu ia masih tetap bermaksud menjadi seorang pendeta sesuai dengan keinginan keluarganya.

Sejak di Pforta Nietszsche merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hidup. Berkali-kali ia menyatakan mau mengadakan semacam pencarian dan percobaan dengan hidupnya. Sikap inilah yang nantinya mempengaruhi Filsafatnya. Ia melakukan percobaannya tersebut secara radikal, dengan jalan melepaskan diri dari ajaran-ajaran agamanya. Ia memilih menjadi freethinker, pemikir bebas. Ia ingin bebas, bebas dari belenggu ajaran agama yang lama hinggap di kepalanya.

Pada tahun-tahun terakhir di Pforta, Nietszsche sudah mulai menunjukkan pemikiran jalangnya. Dalam tulisannya yang berjudul Ohne Heimat (Tanpa Kampung Halaman) ia mengungkapkan gejolak hatinya yang ingin bebas dan minta dipahami. Bersamaan dengan itu, ia juga mempertanyakan iman kristennya. Bahkan kemudian perlahan mulai meragukan kebenaran seluruh agama.

Pada Oktober 1864 Nietzsche melanjutkan studinya di Universitas Bonn. Sampai saat ini ia bersedia belajar agama (teologi) hanya karena kecintaan pada ibu dan ayahnya. Sebab, dengan belajar teologi ia dapat menjadi Pendeta dan dengan demikian dapat meneruskan profesi ayahnya. Namun, pada tahun 1965 Nietzsche memutuskan untuk tidak belajar agama lagi.

Di Bonn, Nietzsche hanya bertahan selama dua semester. Karna pada pertengahan 1865 ia pindah ke Leipzig untuk belajar Filologi selama empat semester. Di Leipzig Nietzsche sangat akrab dengan dosennya, F. Ritschl, dan Nietzsche diakui sebagai mahasiswa paling berbakat diantara semua mahasiswa yang pernah diajar Ritschl. Nietzsche pernah memenangkan hadiah dibidang Filologi yang diselenggarakan Universitas, dengan judul tulisan Diogenes Laertius.

Gagasan utama pemikiran Nietzsche yang paling mengesankan adalah tentang Nihilisme. Nietzsche meramalkan bahwa gerak sejarah akan mengarah kepada suatu bentuk Nihilisme. Yaitu situasi dimana seluruh nilai dan makna dalam bidang kehidupan umat manusia telah runtuh. Bidang kehidupan tersebut dapat dibagi menjadi dua, yaitu keagamaan (termasuk didalamnya etika/akhlak) dan ilmu pengetahuan. Runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan di kedua bidang tersebut membuat manusia kehilangan jaminan dan pegangan untuk memahami isi dunia dan kehidupannya.

Dengan Nihilisme ini, ia mau menunjukkan bahwa apa saja yang dulu dianggap bernilai dan bermakna secara perlahan mulai memudar dan menuju keruntuhan. Krisis ini akan berlangsung terus menerus secara tak terelakkan. Khususnya yang akan terjadi di Eropa sebagaimana disaksikan Nietzsche.

Requiem aeternam!. Adalah ungkapan yang diucapkan untuk menghormati dan mendoakan orang yang meninggal dunia. Kira-kira ungkapan tersebut berarti "semoga engkau beristirahat dalam kedamaian abadi. Nietzsche mengganti ungkapan tersebut menjadi Requiem aeternam deo!, yang artinya "semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi". Bersamaan dengan itu, Nietzsche juga mendoakan agar model-model Tuhan yang disembah bangsa Eropa juga turut terkubur. Untuk melukiskan dua macam keruntuhan tersebut, Nietzsche cukup mengatakan "Gott is tot". Kritikan Nihilisme tersebut ditujukan kepada bangsa barat.

Nietzsche telah banyak sekali mengilhami Filsuf-filsuf barat untuk melakukan kritik terhadap kebudayaan Barat dan asumsi-asumsinya. Karl Jaspers, Martin Heidegger, Michel Fouchault, Jacques Derrida, bahkan Muhammad Iqbal adalah barisan Filosof yang mengikuti jejak intelektual Nietzsche.

Nietzsche meninggal pada tanggal 25 Agustus 1900. Saat-saat terakhir hidup Nietzsche adalah saat yang paling tragis. Ia ditimpa sakit jiwa. Dan selama dua tahun terakhir masa hidupnya, ia sudah tidak dapat mengetahui apa-apa, dan tidak dapat lagi berfikir. Bahkan ia sudah tidak tahu lagi kalau ibunya meninggal.

Walaupun tidak bisa dikatakan mewakili seluruh pemikiran bangsa Barat, namun tetap saja Nietzsche merupakan cerminan para intelektual barat dalam memandang agama. Dan agak aneh memang, bahwa pengabaian terhadap keberadaan Tuhan ini lahir dari seorang Kristiani yang taat dan menggenggam teguh keyakinan ajaran agamanya. Dari semula yang hanya mempertanyakan kemurnian ajaran agamanya, perlahan beranjak menggugat Tuhannya, dan akhirnya membunuh-Nya, ialah Nietzsche, sang Nabi besar Atheisme dari Eropa.

By: Saifudin Zuhri
Mahasiswa Tk Akhir Syari'ah Islamiah

10.05.2008

Sky3c



http://btemplates.com/?dl_id=74

  © Blogger template 'Portrait' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP